forum coret-coret anak akper nusja


Jari Manis Peneropong Segalanya

Bagi wanita yang memiliki jari manis lebih panjang ada baiknya mulai berhati-hati, pasalnya penelitian terbaru menyebutkan wanita dengan ukuran jari manis lebih panjang dari jari telunjuknya rentan mengalami gangguan radang sendi (arthritis).
Pada umumnya jari telunjuk dan jari manis pada wanita memiliki panjang yang sama, sementara pada pria jari manis cenderung lebih panjang dari jari telunjuknya.
Ilmuwan mendapati wanita yang memiliki jari manis lebih panjang beresiko ganda mengidap osteoarthritis (penyakit degeneratif pada persendian), dibanding mereka yang memiliki jari berukuran standar.
“Wanita yang memiliki jari manis dengan pola pria atau jari manis lebih panjang daripada jari telunjuk beresiko menderita osteoathritis pada lutut. Mekanisme dasarnya belum jelas dan masih dibutuhkan penelitian lebih jauh tentang hal ini,” jelas Professor Michael Doherty, ketua penelitian, seperti dikutip dari Dailymail.co.uk, Jumat (04/01/08).
Untuk riset ini, para peneliti dari Universitas Nottingham menganalisa jemari tangan 2 ribu penderita radang sendi dan seribu orang tanpa gangguan arthritis di usia ke-60.
Penelitian yang diterbitkan di jurnal Arthritis & Rheumatism ini menggunakan bantuan sinar X pada kedua tangan responden dan mengukur panjangnya jari menggunakan tiga metode yang meliputi perbandingan jarak pangkal di antara dua jari, mengukur rasio dari pangkal sampai ujung jari, dan mengukur rasio panjang tulang jari manis dan telunjuk.
Faktor-faktor lain juga dilibatkan dalam riset ini, seperti kurangnya berolah raga atau kemungkinan cedera yang pernah dialami responden.
Dan hasilnya mayoritas penderita arthritis dijumpai pada wanita yang memiliki jari manis lebih panjang.
Panjang Jari dan Homoseksualitas

Studi perbandingan dua jari (jari manis dan jari telunjuk) dan radang sendi ini baru pertama kalinya dilakukan. Sebelumnya penelitian tentang perbedaan panjang jari telunjuk dan jari manis terhadap tingkat kecerdasan pernah dilakukan pada awal 2007 lalu.
Meski belum bisa menemukan penyebab pastinya, namun ilmuwan yakin faktor genetik juga turut berperan. Sementara yang lainnya mengkaitkan hubungan hormon testosteron dalam kandungan.
Teori ini didasarkan pada kenyataan tingkat testosteron dan estrogen yang berbeda-beda pada setiap ibu hamil, dan tentu saja juga berbeda pada tingkat pertumbuhan otak dan pertumbuhan jari bayi yang dikandung.
Sebelumnya ilmuwan dari University of Liverpool menyatakan hubungan panjang jari-jari manusia dengan kepribadian manusia. Mereka menemukan tendensi depresi dan homoseksual pada pria yang memiliki jari telunjuk lebih pendek dari jari manis, dan hal yang sama juga berlaku juga pada perempuan yang memiliki jari manis lebih panjang.
Sementara itu, sebuah studi di Kanada pada 2005 lalu menemukan jari telunjuk yang lebih pendek menunjukkan tingkat agresif pada anak-anak.
Dan tahun lalu, para psikolog dari Bath University mengukur tingkat kecerdasan anak-anak dilihat dari panjang jari mereka. Mereka yang memiliki jari manis lebih panjang dari jari telunjuk cenderung memiliki kemampuan berhitung lebih tinggi dibanding kemampuan verbal dan bahasa. Sebaliknya, anak yang jari telunjuknya lebih panjang memiliki kemampuan verbal dan membaca yang lebih baik. sumber :www.kapanlagi.com



Diet Picu Resiko Kanker Payudara dan Indung Telur

Satu penelitian mengungkapkan bahwa wanita yang memiliki pola makan yang terdiri dari daging dan aneka produk hasil ternak, seperti susu, telur dan produk olahannya, dapat mengurangi resiko terkena kanker payudara.
Sementara mereka yang banyak menerima asupan makanan yang tinggi seratnya, seperti buah-buahan, sayur-sayuran dan biji-bijian, juga memperlihatkan resiko rendah terkena kanker indung telur.
Hasil penemuan tersebut dipublikasi dalam majalah kedokteran ‘The International Journal of Cancer’ yang mengaitkan antara peran pola makan bagi resiko terkena kanker pada kaum hawa.
Asupan dengan kandungan alkohol tinggi secara konsisten memiliki kaitan dengan resiko tinggi kanker, namun apabila dikaitkan dengan pola makan lainnya maka ditemukan sejumlah hasil yang dapat berbeda satu sama lainnya,” kata Dr. Valeria Edefonti dari University of Milan.
Dari sejumlah penelitian dikatakan bahwa wanita yang mengkonsumsi daging merah atau aneka produk olahan daging akan memiliki resiko tinggi terkena kanker payudara, namun penelitian lainnya menemukan sebaliknya tak ada kaitan antara daging merah dan aneka daging yang telah diproses dengan penyakit kanker.
Lemak jenuh yang ditemukan sebagian besar pada makanan kandungan protein hewani dikatakan memiliki kaitan erat dengan kanker payudara namun disejumlah penelitian lainnya hasilnya bertentangan sama sekali.
Sementara sebagian peneliti lainnya menganjurkan pola makan yang merupakan kombinasi dari pertimbangan gizi dengan apa yang disukai masing-masing individu.
Dalam penelitiannya Edefonti dan rekan rekannya mengkases ke pola makan 3.600 wanita yang menderita kanker payudara dan indung telur dan membandingkannya dengan 3.413 wanita yang sehat. Berdasarkan pada jawaban maka peneliti menemukan empat kelompok pola makan.
Kelompok satu kelompok penganut pola ‘protein hewani’, yaitu mengkonsumsi daging merah dalam jumlah banyak, lemak jenuh, zink, kalsium serta sejumlah tertentu makan bergizi lainnya.
Kelompok kedua adalah kelompok yang memilki pola makan kaya akan “vitamin dan serat”, yang kaya akan vitamin C, beta carotene dan gizi lainnya yang ditemukan dalam buah-buahan dan sayur-sayuran.
Kelompok dengan pola makan “lemak tak jenuh” yang berisi kandungan tinggi dari minyak sayur dan minyak ikan selain itu juga vitamin E. Sementara kelompok terakhir adalah kelompok dengan pola makan yang kandungan karbohidrat tinggi protein nabati dan sodfium.
Dari keseluruhannya peneliti menemukan kelompok yang mengkonsumsi atau memiliki pola makan kaya akan vitamin dan kaya akan serat adalah kelompok dengan resiko kanker indung telur yang paling rendah dibandingkan dengan kelompok dengan pola makan nya rendah vitamin dan rendah serat.
kelompok wanita yang menganut pola makan “lemak tak jenuh” memiliki resiko paling rendah terhadap kanker payudara sementara yang mengkonsumsi makanan dengan karbohidrat tinggi memiliki resiko terkena kedua jenis kanker tersebut.
Dalam sarannya umumnya para dokter menyarankan agar kita mengurangi makan daging merah makanan mengandung lemak jenuh dan perbanyak makan sayur-sayuran dan buah-buahan, keluarga gandum dan padi-padian, serta mengkonsumsi lemak tak jenuh.



Awas! Vitamin Bisa Jadi Pembunuh
April 21, 2008, 4:00 pm
Filed under: akper nusja gi tu loh, tips menarik | Tag: ,

Siapa sangka vitamin yang selalu dianjurkan kala kita sedang tidak fit justru bisa membawa celaka. Pasalnya, sebuah penelitian di Denmark menyebutkan bahwa beberapa vitamin suplemen justru bisa menyebabkan kematian prematur.
Penelitian para ilmuwan Universitas Kopenhagen yang mengkaji 67 hasil studi menyebutkan bahwa tidak ada ‘bukti meyakinkan’ bahwa suplemen anti-oksidan bisa mengurangi resiko kematian.
Para peneliti ini malah menemukan bahwa vitamin A dan E bisa mengurangi pertahanan tubuh yang alami. “Terlebih lagi, beta-karotin, vitamin A dan vitamin E tampaknya meningkatkan mortalitas,” demikian hasil tinjauan kelompok bernama Cochrane Collaboration.
Para peneliti menyeleksi hasil 817 studi mengenai beta-karotin, vitamin A, vitamin C, vitamin E dan selenium, yang menurut mereka paling mencerminkan dampak penggunaan suplemen dalam mengurangi mortalitas.
Suplemen-suplemen ini semula diduga mampu mencegah kerusakan jaringan tubuh akibat hal yang disebut oxidative stress, dengan mengeliminasi molekul “radikal bebas” yang diduga sebagai penyebabnya. Kerusakan jaringan itu selama ini disebut ikut berperan dalam menimbulkan penyakit seperti kanker dan penyakit jantung.
Resiko Naik
Berbagai studi yang dikaji tim Universitas Kopenhagen melibatkan 233.000 ribu orang yang sakit atau sehat tapi minum suplemen agar tidak sakit.
Setelah memperhitungkan berbagai faktor lain, dan menyisihkan 20 studi, para peneliti mengaitkan suplemen vitamin A dengan kenaikan resiko kematian sebesar 16%, beta-karotin menyebabkan kenaikan resiko kematian sebesar 7%, sedangkan vitamin E meningkatkan resiko kematian sebesar 4%.
Vitamin C tampaknya tidak memberi pengaruh apa-apa, sedangkan efek selenium menurut tim peneliti, masih harus dikaji lebih jauh. “Kami tidak menemukan bukti bahwa suplemen anti-oksidan membantu pencegahan primer maupun sekunder,” demikian kesimpulan mereka.
Tidak jelas mengapa suplemen bisa mengakibatkan efek semacam ini. Para peneliti menduga bahwa suplemen ini mengganggu fungsi tubuh, misalnya beta-karotin mengganggu cara tubuh memanfaatkan lemak. (bbc/boo) Sumber Asli : www.kapanlagi.com



Indahnya Berpisah
Desember 25, 2006, 12:44 pm
Filed under: puisi cinta

jiwa datang dari jauh
sejukkan kehampaan raga…
meng-adakan ciptaan yang maha indah

seperti adanya dirimu bersama cinta
jadikan hati laraku berbunga
meng-indahkan harik-hari dalam hidupku

kini kau pergi…
dengan sepenggal kata
“setialah menantiku, aku pasti kembali”




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.